Ya Allah, kenapa males banget seeeh hari ini?! Mau ngapa-ngapain males aja bawaannya. Tadi pagi juga males beberes kamar, mandi pagi juga mepet bangeeet waktunya. Rasanya muales banget ngantor. Padahal biasanya semangat lo. Ini lagi di depan monitor tapi pikiran ngeblank. Males bangeeeettt, pengennya tiduran dirumah aja nonton drakor sambil ngemil. Ya Allaaaah, kenapa dengan hamba. Sungguh ini perbuatan yang tak terpuji.

Hari ini rupiah tembus 14 ribu dan berimbas harga barang meroket naik. Tak ada yang patut disalahkan dan disesali. Jalani saja apa adanya. Selama masih dikasih napas, berarti masih ada rejeki untuk kita. Mungkin yang bikin kita sakit hati karena kita menyandarkan harapan kepada manusia, padahal serapuh rapuhnya makhluk itu ya manusia. Bersandarlah kepada yang tak mungkin tumbang, yang tak pernah ingkar janji dan yang Maha Kaya, the one and only Allah SWT. Berhematlah apapun yang sekiranya dapat dihemat, dan manfaatkanlah apapun yang dapat dimanfaatkan(dalam batasan positif dan halal). Jalani hidup dengan optimis karena bukankah hidup hanya sementara dan sebentar? Nikmatilah dan resapi prosesnya. Segala kesakitan dan pengorbananmu hari ini akan diganti dengan yang jauh lebih baik. Itu mudah saja bagi Allah. Tak perlu iri dengan mereka yang berlebihan, karena dunia dan isinya sangat murah bagi Allah. Jangankan yang menyembahNya, yang menduakanNya pun pasti diberi. Yang mahal itu hidayah. Saking mahalnya, hanya mereka yang terpilih yang bisa merasakannya.
#Nasehat ini aku persembahkan untuk diriku sendiri#

Mungkin…..

(Mungkin ketika pada akhirnya aku bisa memahami pedih dan dahsyatnya sakaratul maut, baru aku akan mengerti betapa sia-sia dan tak berartinya dunia yang selama ini pontang panting aku kejar.)

Mbakku sayang, kini kamu sudah pergi. Untuk selamanya. Dan tak mungkin lagi kembali. Kini tak ada lagi suaramu yang akan aku dengar. Tak akan ada lagi tawa renyah yang selalu aku suka untuk mendengarnya.

Masih aku ingat hari itu. Hari dimana terakhir aku melihatmu. Aku menggenggam tanganmu yang masih aku ingat rasa hangatnya. Masih aku ingat uraian airmata yang mengalir di pipimu. Mbakku, aku merindukanmu. Dan kini kau sudah pergi.

Seketika, segala kenangan tentangmu kembali terngiang di pikiranku. Waktu aku masih kecil dan Mbak mengajakku ke Mc. Donald, ketika aku menginap di rumah Mbak dan ketika Mbak memelukku. Aku ingat semua itu.

Kepergianmu, seakan menjadi alarm untukku. Tak ada yang abadi di dunia ini. Doa untukmu, selalu aku panjatkan dan ku berharap engkau pergi dalam keadaan baik..

Mbak, kemarin aku pulang dari kotamu. Anak bungsumu menangis. Aku pun ingin rasanya ikut menangis. Tapi melihat mereka, anak anakmu, aku tahu mereka akan baik-baik saja. Mereka akan tumbuh menjadi manusia soleh soleha, yang bermanfaat bagi sesama. Jangan khawatirkan mereka.

Selamat jalan Mbak Esti. Sesungguhnya dariNya kita diciptakan dan kepadaNyalah kita akan kembali……

11 Mei 2015//Mbak Esti Widanti, sepupuku yang cantik dan hebat.

Kehadiranmu, anugrah terbesar dalam hidupku. Terimakasih karena sudah memilihku. Kelak, akan ku jaga engkau sebaik-baiknya.

Kita belum pernah bertemu, tapi entah mengapa aku merasa sangat mencintaimu 🙂

Engkau cahaya hatiku, kecintaan kami berdua. Semoga kelak menjadi Qurrota Ayun

Pada suatu malam minggu di sudut Surabaya, bersama si yayang saya menikmati segelas vanilla milkshake. Tak banyak kata yang terucap diantara kami, hanya sesekali menatap sekeliling. Banyak urban Surabaya yang masih menikmati malam. Diantara sisa rintik hujan bulan Maret, diantara lilin-lilin wangi yang menyala temaram dan alunan musik yang eye catching, malampun semakin larut. Seketika saya tersadar waktu sudah hampir tengah malam. Saya harus pulang. Saya bergegas meraih ponsel, jangan-jangan dari tadi orangtua sudah menelepon tapi tidak saya dengar.

Ternyata tidak. Tak ada panggilan dari siapapun.

Saya pun baru tersadar. Saya sudah menikah.

Iya, saya sudah menikah jadi mana mungkin orangtua masih menelepon saya untuk menyuruh pulang. Oh, ternyata ini rasanya menikah. Enak juga. Nggak perlu lagi ndredek kalo kemalaman di luar rumah. Bisa kelayapan sampai tengah malam dengan si dia. Tapi entah kenapa, rasanya seperti ada yang hilang. Saya merindukan untuk digupuhi Bapak dan Ibu supaya bergegas pulang. Ini aneh.

Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku seorang ilustrator handal yang pinter nyari duit karena keahliannya tersebut Ya Allah
Ya Allah ya Tuhanku, aku kepingin banget jago gambar, bisa ngajarin anakku ngegambar dan bisa punya studio gambar sendiri di rumah
Ya Allah ya Tuhanku, dalam hidupku ijinkan aku bisa menerbitkan buku ilustrasiku sendiri ya Allah
Bantulah aku menemukan ciri khasku sendiri Ya Allah dan kuatkan tekadku untuk selalu berusaha, aamminn 🙂

Suatu ketika salah seorang sahabat bertanya kapan foto-foto pernikahan diupload ke media sosial. Saya diam sejenak. Sibuk berpikir jawaban apa yang pas. Bukan karena apa tapi….entahlah. Mungkin karena usia jadi rasa malu itu terasa lebih besar jadi aneh aja rasanya kalo foto muka sendiri terpampang dimana-mana atau juga karena….empati.

Jomblo selama 5 tahun, banyak sekali pengalaman pedih yang saya alami. Sorry too much information tapi mungkin ini bisa juga jadi renungan untuk kita semua. Bertemu dengan pria yang salah (beberapa kali!), melihat si mantan foto selfie dengan pacar barunya didepan kaca (dan saya hanya bisa selfie dengan lemari!), malam minggu dirumah berharap hujan turun dengan deras(padahal itu lagi musim kemaro!) banting monitor gara-gara foto pernikahan tersebar di mana-mana (saya upload foto anak tetangga!)dan banyak lagi peristiwa-peristiwa yang lama-lama sepertinya membuat saya menjadi sosok yang picik. Apakah saya tidak semenarik itu sampai bernasib menjadi jomblo di usia segini???

Sungguh hati rasanya adem ketika bulan Ramadhan tiba, tapi ketika dimalam takbiran, diantara kebahagiaan beribadah, terselip juga kekhawatiran akan hari esok. Hari esok? Iya hari esok alias hari L.E.B.A.R.A.N. Para penderita jomblo menahun pasti paham. “Kapan kawin?” “Kapan tante dikirimin undangan?” “Nunggu apalagi?” “Ngapain ditunda-tunda? Ingat umur!” “Anaknya Bu ini Bu itu udah menikah semua lo padahal masih piyik piyik” Hhhh…….Berasa dibully gak sih?
Mendapat rentetan pertanyaan seperti itu, saya hanya bisa tergugu sambil ngunyah nastar.

Dan itu saya alami selama 5 tahun yang artinya 5x lebaran. SICK.

Malam-malam panjang penuh ketidakpastian, weekend-weekend yang terasa tak berarti, episode-episode penuh airmata, semua sudah dijalani. Hingga rasanya makin skeptis, makin nggak percaya diri. Perlahan mulai menarik diri kalau ada pertemuan keluarga. Tapi perlahan juga mulai makin sensitif ketika akhirnya orang-orang berhenti bertanya. Mungkin mereka lelah atau juga mungkin karena mereka mulai menyadari bahwa itu sesuatu yang tabu untuk ditanyakan kepada seorang perempuan dengan usia diatas 25 tahun dan….loveless. Dan itu nggak enak banget. Ditanya nggak enak, nggak ditanya juga jadi nggak enak. Serba salah.

Hingga akhirnya waktu semakin berlalu menjauhi target usia. Akhirnya cuma bisa pasrah dan segala usaha yang sedang dijalani, saya lakoni tanpa beban. Perlahan saya mulai merasa nothing to loose. Alhamdulillah kalau bisa menikah sebelum kepala tiga, tapi kalau akhirnya melewati usia tersebut, apa mau dikata? Bila ada yang masih bertanya “Kapan nikah?” dengan pedenya saya menjawab “InshaAllah bentar lagi, ndes” “InshaAllah tahun depan, ndeng” “Alhamdulillah udah ada jodohnya tapi ya emang belum ketemu aja, po kepo…” Hahahaha. Pokoknya ngasal banget deh. Kalo ada saudara yang mau umroh, tak lupa saya menitip doa. Kalo biasanya minta oleh-oleh coklat, baju, kismis dan segala yang berbau keduniaan, sekarang cukup minta doa aja tapi harus dibacakan dengan khusyuk didepan Kabah dan kalau bisa nama saya didahulukan dari yang lain, hahahaha. Kadang juga ketemu dengan teman yang saking carenya sampe pengen jodohin saya dengan temannya dan semua itu gagal, hahaha. Akhirnya ya udahlah.

Waktu semakin berlalu dan diantara kegalauan hati ternyata terselip imunitas yang bikin hati makin kebal. Liat anak tetangga nikah, ikut senang. Ditanyain segala macam sama orang-orang, bisa ngeles walau ngasal. Lihat teman-teman upload foto mesra, biasa aja. Rasanya malah makin enjoy menikmati waktu. Traveling, hangout, nyalon, kongkow dll.

Hingga akhirnya datang seseorang klien baru kenal yang ngasih job bikin kaos untuk klub otomotifnya. Dan setahun kemudian saya udah jadi istrinya si klien itu. Selesai.

Hahaha. Begitulah cara Allah menjawab doa hambaNya. Ketika kita memohon dengan sangat sampe berurai airmata, sampai ngesot-ngesot guling-guling, kita disuruh sabar. Tapi ketika kita udah pasrah, udah nothing to loose, udah…ah ya terserah deh, malah dikasih. The moral of this story: Bukan usaha yang bikin kita bisa mendapatkan apa yang kita mau, tapi karena ridhoNya aja. Simpel.

That’s why. Penderitaan batin selama hampir satu dasawarsa menjadi jomblo, kenyang dengan pertanyaan yang menjurus ke arah pembullyan dan betapa perihnya menatap foto mesra orang-orang di media sosial, membuat saya lebih bisa merasakan apa yang teman-teman jomblo rasakan saat ini. I feel you dan ingatlah jomblo pasti berlalu.

Sekarang saya malah merasa beruntung banget. Selesai dengan si mantan, saya tetap bisa move on tanpa drama yang lebay. Entahlah apa yang menyebabkan saya biasa aja ketika akhirnya mengakhiri kisah dengannya. Mungkin karena sebagai perempuan saya tidak kehilangan apa-apa(if you know what i mean :)). Itu saya syukuri banget. Walau ternyata setelah itu saya jomblo lama bingits, saya tidak menyesali apa-apa. Hehehe. Alhamdulillah saya bisa menjaga diri. Pun ternyata saya tidak ditemukan langsung dengan si jodoh, ternyata karena saya harus belajar banyak. Sekarang saya sangat menghargai kebersamaan dengan suami. Ketika malam hari tiba-tiba terbangun, ada tangan yang hangat untuk digenggam. Semua beban hidup terasa lebih mudah untuk dijalani karena ada telinga yang tulus mendengar. Ketika rasa pede lenyap ditelan bumi, ada seseorang yang menganggap kita chef paling andal dan perempuan paling cantik sedunia. Previledge yang belum tentu dapat dirasakan semua orang. Jomblo bertahun tahun membuat saya lebih mikir panjang kalo mau ngapa-ngapain. Iya, jomblo adalah madrasah bagi saya menempa diri menjadi lebih dewasa.

Sekarang, bersama suami saya tetap bisa mandiri tapi saya tetap menyadari sebagai perempuan saya punya banyak kelemahan dan kehadirannya, menyempurnakan semua.

Memahami bahwa masa jomblo adalah masa terbaik untuk mengenal dirimu sendiri, mengenal Tuhanmu, saat terbaik untuk melakukan banyak hal dengan orangtuamu karena percayalah setelah menikah kamu tidak bisa sama lagi terhadap orangtuamu(waktumu akan banyak tersita untuk keluarga kecilmu sendiri) dan juga untuk mencintai dirimu sendiri dengan lebih baik. Memahami bahwa suatu saat keadaan ini akan berubah. Dalam kesendirianmu yang kadang terasa begitu pedih ini, akan datang seseorang yang menerimamu apa adanya, yang mencintaimu dengan tulus dan percayalah dia adalah yang terbaik untukmu. Dalam penantian panjangmu sekarang ini, ada dia yang juga menanti kehadiranmu dan kamu adalah yang terbaik buatnya. Resapi kesendirianmu saat ini dengan penuh rasa syukur 🙂

Ya udah sih gitu aja sedikit masukan dari saya. Mungkin emang nggak penting, mungkin juga too much information, tapi terimakasih sudah membaca tulisan ini.